JAKARTA, Bisnis properti di Indonesia diperkirakan akan lebih prospektif pada 2009 terdorong penurunan defisit neraca transaksi dan inflasi dari level tahun sebelumnya. "Sedangkan pada 2008 ini, iklim moneter kurang kodusif bagi bisnis properti yang terlihat dari lambatnya permintaan rumah dan properti," kata Komisaris PT Perumnas (Persero), Maruhum Batubara, di Jakarta, Jumat (15/8). Mengutip data Bank Indonesia, ia memperkirakan neraca transaksi berjalan pada 2009 akan mencapai 6,122 miliar dolar AS, lebih rendah dari proyeksi 2008 sebesar 10,409 miliar dolar dan realisasi 2007 sebesar 10,836 miliar dolar AS. Sementara tingkat inflasi 2009 akan berada pada kisaran 6,5 persen, jauh di bawah kisaran inflasi 2008 yang mencapai dua digit. "Nilai tukar rupiah juga diperkirakan akan terjaga pada kisaran Rp9.100 per dolar AS sehingga tidak ada alasan bagi perbankan untuk menaikkan suku bunga," katanya. Faktor lain yang akan mendorong prospek bisnis properti pada 2009 adalah akumulasi defisit rumah yang masih tinggi, jauh lebih tinggi dari kemampuan penyediaan. "Perkiraan hingga 2009, terjadi akumulasi kebutuhan rumah di Indonesia hingga sekitar 5,6 juta di samping sekitar 13,1 juta rumah yang tidak layak huni," paparnya. Sumber : kompas.com
|